Benteng Tujuh Lapis, Saksi Sejarah Dahsyatnya Perjuangan Melawan Penjajah Belanda

0
1187

Benteng tujuh Lapis merupakan sebuah bangunan benteng bersejarah yang dibangun oleh Tuanku Tambusai yang juga merupakan seorang Pahlawan Nasional. Tuanku Tambusai ini adalah seorang putra pejabat tinggi Kerajaan Tambusai yang dilahirkan di Dalu-dalu pada tanggal 5 November 1784. Bangunan benteng ini dibangun pada tahun 1835 yang berdiri di Dalu-dalu, Kec. Taambusai, Kab. Rokan Hulu, Riau. Benteng Tujuh Lapis sengaja dibangun sebagai tempat pertahanan dari usaha melawan pemerintah kolonial Belanda.

Pada mulanya Benteng Tujuh Lapis di Riau ini bernama Kubu Aur Duri. Benteng ini terbangun dari 7 lapis tembok tanah liat yang sangat kokoh dan memiliki tinggi benteng sekitar 8 meter. Bangunan benteng bersejarah ini dibangun di atas bumbun tanah yang ditanami bambu berduri sertai dilengkapi dengan parit sedalam 10 meter. Pasukan Belanda yang datang berkali-kali untuk menyerang Benteng tujuh Lapis ini selalu mengalami kegagalan yang sama dalam upayanya menaklukan benteng bersejarah ini.

Ada yang menarik dari peristiwa sejarah yang pernah terjadi dan berhubungan erat dengan Benteng Tujuh Lapis ini. Yaitu saat terjadi pertempuran dalam merebut benteng ini yang dilakukan oleh Belanda pada tanggal 28 Desember 1838. Pertempuran saat itu berhasil menewaskan empat perwira menengah dan membuat korban luka-luka lainnya. Menurut sumber berita yang beredar menjelaskan bahwa Benteng Tujuh Lapis di Riau ini dikelilingi oleh parit-parit yang berisi air dan dilapisi lagi satu persatu bagiannya oleh kubu-kubu kecil dengan lubang-lubang bedil. Kubu-kubu tersebut kemudian dilingkari dengan bambu duri yang ditanam yang diselingi oleh jalan pintas dan rumah-rumah jaga. Di sekitar Benteng Tujuh Lapis ini terdapat banyak pohon rindang yang tumbuh sehingga menyulitkan bagi musuh yang ingin mendekati benteng bernilai sejarah ini. Bagian belakang Benteng Tujuh Lapis langsung berhubungan dengan Sungai Batang Sosah. Pantas saja pasukan Belanda merasa kesulitan untuk menaklukan Benteng Tujuh Lapis ini karena selain dirancang sedemikian rupa seperti yang telah dijelaskan di atas, benteng ini juga dipersenjatai dengan 300 bedil, 500 pound peluru dan juga 14 buah meriam lela.

Peristiwa yang menyebabkan tewasnya empat perwira menengah Belanda tersebut dapat menggambarkan bahwa perang yang terjadi tersebut begitu sangat heroik dan dahsyatnya tidak sedikit pula dari pihak bangsa kita yang berguguran dan menjadi pahlawan bangsa yang tak pernah terbalaskan jasa-jasanya.