Weekend Bersama Alam Papandayan

 

Sesudah melalui banyak halangan, dari pergantian ketentuan serta rempongnya bawaan (maklum, baru pertama kalinya naik gunung dengan cara resmi… serta backpacker). Lokasi sebagai maksud kami yaitu Gunung Papandayan Garut, awal gagasan yang ingin pergi ada 8 orang namun di hari H 3 orang mengambil keputusan tak jadi turut lantaran argumen spesifik, kami tidak akan menyewa Hotel di Garut akan tetapi akan Backpackeran dan mencoba wisata adventure yang sesungguhnya.

Saya pergi dari kost (Pondok Aren, Tangsel) jam 19. 15 ke Rumah Erin, motor saya dititipkan di tempat tinggalnya lalu kami pergi bareng jam 20. 15 naik ojek kearah Ciledug hingga jam 20. 30. Sesudah kami tiba di Ciledug, di sana telah ada Abi yang menanti.

TRANSPORTASI
Kami bertiga naik bis patas Cileduk-Kampung Rambutan dengan tarif Rp 7. 000 ;, tiba di Kampung Rambutan saat tunjukkan jam 23. 30. Mr James telah ada di sana, sesudah say hello serta berteman kami berbincang-bincang sembari menanti satu rekan lagi dari Kebon Jeruk yang nyatanya tengah terjerat macet.

Jam 00. 00 Si Fahry, rekan yang tengah kami tunggulah pada akhirnya datang juga. Kami segera berkemas serta bergegas mencari bis kearah Garut. Serta nyatanya malam itu kami telah kehabisan bis, lalu kami mengambil keputusan untuk naik ojek ke Pasar Rebo sesudah lakukan tawar-menawar harga lantaran telah terlampau malam jadi kami menyepakati membayar dengan harga yang cukup mahal Rp 10. 000 ; untuk jarak yang dekat. Alhamdulillah…di Pasar Rebo masih tetap ada satu bis kearah Garut yang tengah mangkal, kami selekasnya naik serta dengan gampang kami dapat memperoleh kursi sesuai sama apa yang diinginkan lantaran tak ada penumpangnya. Bis baru bergerak jam 01. 00, kami gunakan saat di bis itu untuk tidur yang kebetulan ka-
mi seluruhnya baru pulang kerja.

Tiba di terminal Cicaheum Garut jam 05. 30, saat sebelum melanjut-kan perjalanan kami bertukaran ke toilet yang ada di terminal ter-sebut. Kemudian kami sarapan bubur ayam yang terasa cukup asin di seputar tempat kami turun tadi dengan harga Rp 5. 000 ; per jumlah. Saya serta Erin singgah ke pasar sebentar beli sayur serta beras untuk dimasak kelak, selesai berbelanja kami segera mencari angkot dengan maksud Cicaheum (tarif Rp 6. 000 ;).

BERANGKAT!
Tiba di pertigaan Cisurupan kurang lebih 30-40 menit perjalanan dengan jarak tempuh 12 km, sembari menanti rekan dari tim lain untuk naik dolak bareng kami bergiliran ke toilet yang ada di Masjid Mr James serta Abi beli sebagian ransum di Indomaret. Tarif harga yang telah disetujui yaitu Rp 10. 000 ; per orang. 12 orang telah terkumpul untuk naik dolak (truk sayur), 5 orang dari kami serta 7 orang dari tim lain yang kelihatannya masih tetap anak-anak SMU.
Mr James duduk di samping Pak Sopir, Abi serta Fahry disisi kiri berbarengan anak-anak SMU, saya serta Erin di segi kanan berbarengan anak-anak SMU yang lain. Di selama jalan kami lihat panorama yang luar umum, puncak Papandayan dipandang dari kaki gunung seperti penuh misteri lantaran banyak asap dari belerang serta kabut yang menyelimutinya. Kami dapat juga lihat rimba mati yang masih tetap keluarkan asap lantaran kebakaran yang berlangsung di bln. Ramadhan tempo hari. Perjalanan dari Cisurupan menuju Penanjakan menghabiskanwaktu 30 menit, jalanannya cukup terjal lantaran daerah Pegunungan serta telah rusak aspalnya. Tiap-tiap tikungan kami mesti berpegangan kuat-kuat begitupun bila ada lubang, Mr. james jadi navigator kita lantaran beliau duduk di dekat Pak Sopir.

PUNCAK PENANJAKAN
Demikian kami hingga di TKP serta turun dari dolak, sebagian dari kami segera ke toilet saat sebelum me-lakukan pendakian. Mr James ganti pakaiannya dengan pakaian sport, yang menurut saya ‘Ngga Banget’ yakni T-Shirt Tangtop serta celana pendek untuk suhu hawa yang lumayan dingin itu. Sedang Aby serta Fahry ke Posko untuk melapor dengan membayar beberapa duit ‘sukarela’. Sesudah berfoto berbarengan dengan meminta pertolongan salah seseorang dari tim pendaki yang lain, kami berdoa yang di pimpin oleh Abi untuk keselamatan berbarengan disudahi dengan toast tangan serta berteriak ‘Haaaa….!!!!! ’
Perjalanan diawali! Pendaki cukup banyak di hari itu kemungkinan mereka memiliki argumen yang sama juga dengan kami yakni menggunakan berlibur weekend berbarengan alam. Ada dua jalur yang dapat dilalui untuk meraih puncak sebagai maksud kami yakni Taman Salada, tempat di mana kami berencana untuk membangun tenda serta menginap di sana. Track yang kami lewati berbentuk batu-batuan serta pasir putih sisa lahar letusan gunung Papandayan, baru sebagian menit perjalanan saya serta Erin kelihatannya telah terasa keletihan hahah…maklum mountainering amatir, kami beristirahat diatas bebatuan serta rekan-rekan yang lain dengan sabar menanti kami di depan. Di perjalanan kami bersua dengan beberapa orang, ada warga setempat yang baru menuruni puncak, ada pula yang naik dengan mengendarai sepeda motor. ‘Waduhhhh…. ne orang uda gak mempunyai rasa takut apa ya? ’ gumam kami. Kami juga bersua dengan sepasang suami istri, yang pria datang dari Prancis serta yang wanita dari Malang Mr. Steve serta mba Ida namanya. Yang selanjutnya mereka mengambil keputusan untuk berhimpun di tenda kami walau tak ada gagasan bermalam di Puncak awal mulanya. Kami bertukar narasi keduanya sepanjang perjalanan, keduanya jadi lebih sama-sama mengetahui. Abi rekan Erin nyatanya beberapa kali sudah naik gunung, bila Fahry memang pendaki gunung sejati dalam 1 bln. dia pernah naik gunung hingga 4 kali. Mr. James yaitu Managernya Abi di kantor, dia warga Negara Malaysia serta seseorang atlet lari marathon. Mba Ida nyatanya telah jadi warga Negara Perancis, telah 13 th. dia tinggal di sana serta bekerja juga sebagai karyawan restoran dengan nuansa ski. Mr. Steve sendiri yaitu seseorang teknisi perakitan pesawat terbang di Perancis.

Terkadang kami mesti hentikan pembicaraan lantaran kelelahan dengan jalanan yang senantiasa menanjak, alur nafas jadi lebih cepat dari umumnya. Terkecuali tanjakan, asap belerang dengan bau yang menyengat juga mesti kami lewati.
Untuk menyingkirkan rasa capek Erin membidikkan kamera ke arah kami, dengan sigap tan-pa di komando kamipun berpose seperti banci kamera. Waduuuuhh…. capeknya bukanlah main, dengan bawaan yang cukup berat di punggung. Walau sebenarnya itu telah dikurangi bebannya 75% saat dirumah Erin, serta heheheh… pada akhirnya yang membawa tasku pulang pergi yaitu Abi, lantaran tas Abi tak ada berisi apa-apa paling akhir tenda yang saya bawa dimasukkan ke tasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Memberikan informasi seputar wisata dalam negeri maupun luar negeri. dengan dukungan gambar, sehingga jelas dan bermanfaat bagi anda yang ingin mengunjungi tempat tertentu., semoga liburan dan wisata anda menyenangkan