Kerukunan Antar Umat Beragama yang Tercermin di Pura Lingsar, Lombok

0
1146

Pura menjadi tempat yang memiliki nilai budaya yang sarat dengan keeksotisan arsitektur yang mempunyai daya pikat yang luar biasa. Tidak sedikit tempat peribadatan salah satu agama ini yang menjadi tempat yang selalu dikunjungi oleh para wisatawan dan melakukan petualangan menarik yang selalu akan berbekas. Bangunan pura ini banyak terdapat di Pulau Bali atau wisata Lombok yang memang penduduknya yang beragama Hindu lumayan banyak. Banyak pura di Bali dan lombok ini yang memiliki keunikan dan ciri khas yang kuat yang membuat pulau tropis ini tampak semakin begitu mempesona.

Satu bangunan pura yang memiliki nilai budaya dan menjadi tujuan wisata saat berada di Lombok adalah Pura Lingsar yang dibangun pada tahun 1741 oleh Raja Anak Agung Ketut. Pura ini merupakan pura yang menggabungkan nilai-nilai budaya Hindu dengan budaya Islam. Hal tersebut menunjukan bahwa rasa toleransi begitu dijunjung tinggi oleh masyarakat sekitar Pura Lingsar. Kedua umat beragama yang saling hidup rukun berdampingan ini saling menjaga dan merawat kompleks pura secara bersama-sama. Kerukanan dan toleransi tersebut terlihat dari peraturan tak tertulis yang melarang orang yang datang ke pura ini membawa sesajian yang bertentangan dengan aturan kedua agama yang berdampingan tersebut. Misalnya dilarang membawa sesaji dari babi yang sangat diharamkan oleh agama Islam ataupun sesaji dari binatang sapi yang begitu disucikan oleh umat Hindu.

Pura Lingsar yang terletak di Desa Lingsar, Kec. Narmada, Kab. Lombok Barat ini memang merupakan pura yang melambangkan persatuan antar umat beragama. Ketika berkunjung ke pura ini pengunjung diharuskan untuk memakai selendang yang diikatkan pada pinggang. Pemakaian selendang ini dimaksudkan untuk menghormati tempat ini yang sangat disucikan oleh umat Hindu dan umat Islam. Pura ini sering menjadi tempat dilangsungkannya Upacara Perang Tobat yang sering digelar setiap satu tahun sekali selain fungsi utamanya sebagai tempat beribadah. Upacara tersebut sebagai lambang rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan oleh Tuhan Yang maha Kuasa. Upacara perang tobat ini biasanya digelar sebelum musim tanam padi dan sesudah musim hujan.

Pengunjung saat berwisata ke Pura Lingsar ini akan menjumpai beberapa kolam yang dihunu oleh ikan julit yang sekilas mirip dengan belut yang sudah berumur ratusan tahun. Ada hal unik yang sering dilakukan orang saat berada di kolam ini yaitu melemparkan uang koin ke dalam kolam tersebut dengan badan harus membelakangi kolam kemudian mengucapkan keinginan yang dikehendaki di dalam hati. Banyak orang yang percaya bahwa keinginan yang kita kehendaki akan terkabul bila setelah melemparkan koin tersebut ke dalam kolam.